Kemenkeu Mengakui Sulit Merayu Generasi Z Untuk Membeli Surat Utang Negara, Ini Tantangan yang Harus Diatasi!

- 11 Juni 2024, 17:07 WIB
Ilustrasi Gen Z/freepik.com/@freepik
Ilustrasi Gen Z/freepik.com/@freepik /

RUBLIK DEPOK - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengakui kesulitan dalam menarik perhatian Generasi Z untuk berinvestasi dalam surat utang negara (SUN), terutama dalam bentuk surat berharga negara (SBN) ritel.

Data menunjukkan bahwa saat ini, hanya sekitar 2,3 persen investor Generasi Z yang tertarik dalam SUN hingga April 2024, sementara pembeli SBN ritel dari kalangan Milenial mencapai 51 persen.

Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, Deni Ridwan, menyoroti kebiasaan Generasi Z yang cenderung terjebak dalam utang konsumtif. Ia menekankan perlunya upaya edukasi yang lebih intensif untuk generasi ini.

Deni mengungkapkan bahwa saat ini Generasi Z lebih mudah terjebak dalam utang konsumtif, terutama dengan adanya penawaran paylater saat berbelanja online.

Hal ini membuat pembayaran melalui pinjaman lebih mudah daripada dengan uang tunai. Oleh karena itu, penting untuk memberikan pemahaman yang baik terkait pengelolaan keuangan agar tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang dapat menghambat akumulasi aset untuk masa tua.

Kemenkeu kini menawarkan savings bond ritel (SBR)-013, yaitu SBR013T2 dengan tenor 2 tahun dan SBR013T4 dengan jatuh tempo dalam 4 tahun hingga tahun 2028. SBR013T2 menawarkan kupon minimal 6,45 persen per tahun dan SBR013T4 sebesar 6,60 persen per tahun.

Periode penawaran SBN ritel ini berlangsung mulai 10 Juni 2024 hingga 4 Juli 2024. Kemenkeu menargetkan terkumpulnya dana sekitar Rp15 triliun dari penerbitan SBR013, namun akan memperhatikan minat dari masyarakat. Jika minat tinggi, alokasi dana dapat ditingkatkan hingga Rp20 triliun.

Deni menegaskan bahwa SBR merupakan investasi yang aman karena pembayaran kupon dan pokoknya dijamin oleh undang-undang dan sudah dianggarkan dalam APBN. Meskipun terdapat risiko likuiditas karena SBR tidak dapat diperdagangkan, investor tetap memiliki opsi untuk mencairkan dana sebelum jatuh tempo melalui fasilitas early redemption.

Selain itu, Deni juga mencatat bahwa penjualan SBN ritel sudah mencapai Rp64,93 triliun, termasuk di dalamnya ORI025 sebesar Rp23,9 triliun, SR020 sekitar Rp21,36 triliun, dan ST012 sebesar Rp19,65 triliun.

Halaman:

Editor: Iswahyudi


Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah