Menghindari Diskriminasi dalam Hukum: Belajar dari Pemikiran Beccaria tentang Kesetaraan

- 10 Mei 2024, 17:04 WIB
filsuf dan kriminologis asal Italia, Cesare Beccaria
filsuf dan kriminologis asal Italia, Cesare Beccaria /

RUBLIK DEPOK - Dalam sistem hukum, kesetaraan dianggap sebagai prinsip yang sangat penting. Hal ini berarti bahwa setiap orang, tanpa pandang bulu, harus diperlakukan sama di hadapan hukum. Namun, apakah pemikiran ini selalu diterapkan dalam praktiknya?

Pemikiran ini pertama kali dikemukakan oleh seorang filsuf dan kriminologis asal Italia, Cesare Beccaria. Ia menekankan bahwa setiap orang yang melanggar undang-undang tertentu harus menerima hukuman yang sama.

Pemikiran ini terdapat dalam bukunya yang berjudul "Dei delitti e delle pene" (Of Crimes and Punishments) yang diterbitkan pada tahun 1764.

Menurut Beccaria, semua orang, baik kaya maupun miskin, berpendidikan tinggi atau rendah, berhak mendapatkan perlakuan yang sama dalam sistem hukum.

Ia menentang praktik-praktik hukuman yang berlebihan dan tidak adil, seperti penyiksaan secara fisik, hukuman mati yang tidak proporsional, dan diskriminasi dalam pemberian hukuman.

Pemikiran Beccaria ini sangat relevan dengan situasi saat ini, di mana masih terdapat ketimpangan dalam sistem peradilan di berbagai negara. Misalnya, masih terdapat kasus di mana orang kaya dan berpengaruh bisa lolos dari hukuman yang seharusnya mereka terima, sementara orang miskin harus menerima hukuman yang lebih berat untuk kesalahan yang sama.

Untuk menerapkan pemikiran Beccaria, diperlukan adanya kesadaran dan komitmen yang kuat dari para pembuat hukum dan penegak hukum.

Mereka harus mengutamakan prinsip kesetaraan dalam semua tindakan dan keputusan yang mereka buat. Selain itu, perlu juga perubahan dalam sistem hukum yang memungkinkan adanya diskriminasi, seperti penghapusan hukuman mati dan penegakan hukuman yang lebih adil dan proporsional.

Selain itu, pemikiran Beccaria juga menekankan bahwa tujuan dari hukuman adalah untuk mencegah terjadinya kejahatan di masa depan, bukan hanya untuk membalas dendam atas kesalahan yang telah dilakukan.

Halaman:

Editor: Iswahyudi


Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah