Suka Bermain Perempuan dan Sabung Ayam, Beginilah Barmawijaya Raja Sunda hingga Berakhir Kekuasaannya

- 11 Mei 2024, 19:33 WIB
Prasasti Kerajaan Sunda
Prasasti Kerajaan Sunda /

RUBLIK DEPOK - Tamperan Barmawijaya atau dikenal sebagai Rakryan Tamperan atau Rakeyan Tamperan diangkat sebagai raja ketiga di Kerajaan Sunda pada tahun 732 M, menggantikan Sanjaya.

Sebelumnya, Tamperan Barmawijaya pernah menjadi perwakilan dari Sanjaya di Kerajaan Galuh. Namun, ketika diutus ke Kerajaan Galuh, Tamperan Barmawijaya terlibat dalam permasalahan asmara dengan Dewi Pangrenyep.

Di tengah kepemimpinannya, Tamperan Barmawijaya terlibat dalam skandal perselingkuhan yang membuatnya memiliki seorang anak dari hubungan gelap dengan Pangereyep. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang pecandu judi sabung ayam yang meresahkan rakyatnya.

Sifat-sifat buruk tersebut diyakini sebagai warisan dari leluhurnya, Mandiminyak, yang berasal dari Kerajaan Galuh di tanah Sunda.

Asmara yang terjalin antara Tamperan Barmawijaya dan Dewi Pangrenyep melahirkan seorang anak bernama Rakeyan Banga atau Hariang Banga pada tahun 724 M.

Ketika Tamperan Barmawijaya dinobatkan sebagai raja Kerajaan Sunda, ia tidak memiliki seorang permaisuri meskipun telah memiliki seorang anak, Hariang Banga. Pada tahun yang sama, 732 M, Tamperan Barmawijaya merencanakan pembunuhan terhadap Premana Dikusuma, raja Galuh yang berhasil dilaksanakan.

Setelah kematian Premana Dikusuma, Tamperan Barmawijaya menikahi kedua isteri Premana Dikusuma, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Dewi Pangrenyep menjadi permaisuri sedangkan Dewi Naganingrum menjadi selir.

Dari pernikahan dengan Dewi Naganingrum, Tamperan Barmawijaya memiliki seorang anak bernama Manarah atau Ciung Wanara. Namun, Manarah lahir sebelum Hariang Banga, putra Tamperan Barmawijaya dengan Dewi Pangrenyep.

Tamperan Barmawijaya memerintah Kerajaan Sunda dan Galuh setelah kematian Premana Dikusuma. Namun, kekuasaannya diwarnai dengan perebutan takhta oleh Manarah atau Ciung Wanara, anak Premana Dikusuma, pada tahun 739 M. Balangantrang, sepupu Premana Dikusuma, bersama dengan Manarah, menggulingkan Tamperan Barmawijaya dan Dewi Pangrenyep.

Akhirnya, Tamperan Barmawijaya dan Dewi Pangrenyep berhasil ditangkap dan dipenjarakan. Hariang Banga merasa tidak nyaman melihat orang tuanya dipenjara, sehingga ia berhasil membebaskan mereka dan melarikan diri ke Jawa Tengah untuk meminta bantuan kepada Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sanjaya, kakek dari Hariang Banga.

Namun, dalam pelarian mereka, Tamperan Barmawijaya dan Dewi Pangrenyep berhasil dikejar oleh pasukan Galuh dan akhirnya tewas. Dengan kematian Tamperan Barmawijaya, takhta Kerajaan Sunda jatuh ke tangan Hariang Banga, anaknya.

Selama pemerintahan Tamperan Barmawijaya, skandal asmara, kecanduan judi, dan konflik suksesi menjadi bagian dari sejarah yang kelam di Kerajaan Sunda.

Editor: Iswahyudi


Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah