Jejak Sejarah Orang Kalang: Dari Tukang Kayu hingga Abdi Dalem di Mataram

- 15 Mei 2024, 07:13 WIB
Kerajaan Mataram Islam
Kerajaan Mataram Islam /sman 13 semarang

RUBLIK DEPOK - Di Jawa saat era Mataram Islam, terdapat sebuah kelompok masyarakat yang dikenal sebagai orang Kalang. Mereka hidup di tengah hutan dan memiliki profesi sebagai tukang kayu, yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah undagi.

Kelompok ini telah ada sejak abad ke-8 dan pada masa Sultan Agung Mataram, mereka dibuatkan permukiman untuk mencegah mereka berpindah-pindah tinggal di hutan.

Permukiman tersebut dibangun pada tahun 1636 dan terletak di dalam dan di luar ibu kota Mataram. Tujuan dari pembangunan permukiman ini adalah agar orang Kalang tidak terus mengasingkan diri di hutan.

Seiring dengan perkembangan waktu, kelompok ini juga mulai berinteraksi dengan masyarakat luar hutan. Keterampilan mereka dalam mengolah berbagai peralatan dari kayu sangat dibutuhkan oleh masyarakat di luar kelompok mereka.

Dari Hutan ke Pemukiman

Pada awalnya, orang Kalang sering berpindah-pindah di tengah hutan selama abad ke-8 hingga ke-15. Namun, seiring dengan semakin berkurangnya hutan akibat pembabatan untuk berbagai keperluan, mereka mulai memasuki wilayah di luar hutan. Terutama setelah hutan di wilayah pesisir semakin terbuka karena dibutuhkan banyak kayu untuk membuat kapal.

Sultan Agung memahami kesulitan yang dihadapi oleh orang Kalang dan akhirnya membangun permukiman untuk mereka. Kampung tersebut dikenal dengan nama Kalangan atau Pekalangan.

Di antara mereka, ada yang dijadikan sebagai abdi dalem di keraton. Tugas mereka adalah membangun rumah, masjid, membuat gerobak pedati, dan berbagai pekerjaan lainnya.

Sebagai abdi dalem, mereka juga bertanggung jawab untuk mencari kayu jati di hutan. Kemudian, kayu tersebut dibawa ke luar hutan untuk dijual atau digunakan untuk berbagai keperluan lainnya. Dengan tugas tersebut, orang Kalang juga ikut memperkuat ekonomi dan pembangunan di wilayah Jawa pada masa itu.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, wilayah jelajah mereka semakin berkurang karena semakin banyaknya hutan yang ditebang. Hal ini membuat sebagian besar dari mereka harus meninggalkan profesi sebagai undagi dan mencari pekerjaan lain di luar hutan. Namun, sebagian dari mereka masih tetap bertahan sebagai undagi dan menjaga tradisi mereka dalam mengolah kayu.

Halaman:

Editor: Iswahyudi


Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah