Uang Kuliah Tunggal Tinggi Menjadi Kontroversi di Kalangan Mahasiswa? Ini Awal UKT Mahal

- 22 Mei 2024, 19:21 WIB
Ilustrasi biaya UKT.
Ilustrasi biaya UKT. /Pixabay/Quince Creative

RUBLIK DEPOK - Kontroversi seputar Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang tinggi telah menjadi topik hangat di kalangan mahasiswa dan perguruan tinggi di Indonesia. Kenaikan UKT telah memicu demonstrasi di beberapa universitas negeri.

Sejumlah mahasiswa baik di PTN di Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa telah melakukan demo menolak kenaikan UKT. Aksi protes terjadi di Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Sumatera Utara, Universitas Riau, dan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Baca Juga: Mendesak! Mahasiswa Universitas Brawijaya Serukan Perubahan Kebijakan UKT yang Mencekik

Awal Mulainya Polemik UKT

Asal muasal dan aturan UKT pertama kali diperkenalkan pada tahun 2013 melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 55 Tahun 2013. Menurut peraturan tersebut, UKT merupakan bagian dari Biaya Kuliah Tunggal (BKT) yang harus dibayar oleh mahasiswa berdasarkan kemampuan ekonomi mereka.

BKT sendiri merupakan total biaya operasional per mahasiswa per semester di universitas negeri. UKT dihitung dengan mengurangkan bagian biaya yang ditanggung oleh masyarakat dan pemerintah dari BKT.

Peraturan tersebut bertujuan untuk menyederhanakan biaya pendidikan tinggi dan memberikan keadilan finansial bagi mahasiswa. Mahasiswa dari keluarga dengan penghasilan rendah membayar biaya kuliah lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang berasal dari keluarga dengan penghasilan tinggi.

Baca Juga: UKT Mahal, Kemendikbudristek Umumkan Penggunaan Anggaran Fungsi Pendidikan di APBN 2024

Meskipun demikian, keberadaan UKT telah menimbulkan protes, seperti yang terjadi di UIN Sunan Kalijaga, di mana mahasiswa menyatakan bahwa UKT memberatkan mahasiswa tidak mampu dan merupakan bentuk komersialisasi pendidikan.

Halaman:

Editor: Iswahyudi


Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah