Kecelakaan Bus Ciater Subang, Sopir Ditetapkan Sebagai Tersangka

- 14 Mei 2024, 14:35 WIB

RUBLIK DEPOK - Setelah dilakukan penyelidikan, Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jawa Barat menetapkan Sadira (51 tahun) sopir Bus Trans Putera Fajar sebagai tersangka kasus kecelakaan bus di Jalan Raya Ciater, Subang, Sabtu (11/5/2024), yang menyebabkan 11 orang meninggal dunia.

Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Wibowo menyatakan bahwa hasil pemeriksaan dari penyidik Unit Laka Lantas Polres Subang dan Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Barat menunjukkan bahwa sopir bus Trans Putera Fajar bernama Sadira (51) merupakan tersangka dalam kecelakaan tersebut.

"Penyelidikan melakukan metode traffic accident analysis yang dilakukan Ditlantas Polda, Satlantas Polres Subang dan Korlantas Polri,"katan Kombes Pol Wibowo dalam keterangannya, Selasa (14/5/2024).

Kombes Pol Wibowo menjelaskan bahwa metode analisis kecelakaan lalu lintas yang digunakan merupakan hasil kerjasama antara Ditlantas Polda, Satlantas Polres Subang, dan Korlantas Polri.

Dalam keterangannya, Wibowo menyatakan bahwa pihaknya telah memeriksa secara menyeluruh 13 orang terkait kecelakaan tersebut, termasuk pengemudi, kernet, penumpang bus, serta masyarakat yang mengetahui peristiwa tersebut.

Selain itu, dua saksi ahli, Dinas Perhubungan Kabupaten Subang, dan agen travel juga telah diperiksa dalam proses penyelidikan. Hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) menunjukkan bahwa tidak ada bekas pengereman pada bus yang terlibat dalam kecelakaan, hanya terdapat tanda gesekan antara bus dan aspal.

"Hasil olah TKP tidak ditemukan bekas pengereman yang ada hanya bekas tanda gesekan bus dan aspal. Artinya kendaraan saat melaju hingga terjadi kecelakaan tidak menggunakan rem," kata dia.

Wibowo melanjutkan dengan mengungkapkan bahwa fakta menunjukkan bahwa sopir bus mengetahui adanya masalah pada rem bus. Hal ini diperkuat dengan informasi bahwa sopir telah melakukan perbaikan pada rem bus dua kali, baik di dekat Gunung Tangkuban Parahu maupun di rumah makan di Ciater.

Meskipun sopir sempat mencoba meminjam komponen rem dari sopir bus lain, namun ukuran yang tidak sesuai menyebabkan perbaikan tidak dapat dilakukan. Hal ini menyebabkan sopir melanjutkan perjalanan hingga terjadinya kecelakaan.

Sadira dijerat dengan pasal 311 ayat 5 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dengan ancaman hukuman kurungan 12 tahun penjara dan denda sebesar Rp24 juta.

Halaman:

Editor: Iswahyudi


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah