Leony Lidya Menyinggung Kasus Ferdy Sambo dan Tragedi Km 50 dalam Sidang Lanjutan Sengketa

- 3 April 2024, 01:42 WIB
Dosen Teknik Informatika Universitas Pasundan Leony Lidya menjelaskan keganjilan data Sirekap dalam sidang lanjutan sengketa Pilpres di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Senin (2/4/2024).
Dosen Teknik Informatika Universitas Pasundan Leony Lidya menjelaskan keganjilan data Sirekap dalam sidang lanjutan sengketa Pilpres di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Senin (2/4/2024). / (Dok. YouTube Mahkamah Konstitusi RI)/

RUBLIK DEPOK - Pada sidang lanjutan sengketa Pilpres di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Senin (2/4/2024), Dosen Teknik Informatika Universitas Pasundan Leony Lidya memaparkan kejanggalan data dalam Sistem Rekapitulasi Elektronik (Sirekap) dengan menyinggung kasus mantan petinggi Polri Ferdy Sambo hingga tragedi Km 50.

Leony terlebih dahulu mengkritisi permasalahan unggah formulir pada Sirekap hingga ketiadaan hak edit C1 bagi Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Ia meyakini kesalahan tidak berasal dari perangkat lunak (software) itu karena perangkat tersebut sejatinya sudah diatur melalui algoritma dan kode tertentu.

Karena itu, Leony menilai Sirekap adalah saksi bisu kejahatan Pemilu.

"Hari ini saya simpulkan bahwa kontroversi yang terjadi pada Sirekap adalah by design, sehingga saya anggap ketika KPU mengabaikan Sirekap dengan berdalih bahwa Sirekap tidak dipakai untuk rekapitulasi berjenjang, maka saya melihat Sirekap sudah menjadi saksi bisu kejahatan Pemilu 2024," kata Leony dalam sidang tersebut.

Kejanggalan lain yang ia soroti adalah KPU menutup info numerik C1 dan D. Ia juga mengkritik alur unggah tanpa adanya opsi bagi pengunggah untuk memvalidasi atau mengecek terlebih dahulu sebelum mengunggah.

"Alurnya adalah unduh, login, pilih TPS, foto, unggah kemudian harusnya secara logis cek apakah hasil unggah sudah sesuai atau belum. Jika belum maka dia harus ulang lagi fotonya sampai benar," ucap Leony.

"Yang terjadi pada Sirekap tidak. Datanya salah itu disimpan, itu fatal akibatnya. Dan saya enggak tahu apakah memang datanya salah atau datanya bagaimana. Tapi fenomenanya adalah orang bisa mengunggah, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan C1," imbuhnya.

Karena bukan kesalahan desain, Leony menduga ada pihak yang mampu mengubah-ubah angka atau data pada Sirekap. Ia lantas menyinggung kasus Ferdy Sambo. Dalam kasus Sambo, beberapa pihak yang merupakan anak buah Ferdy Sambo merusak CCTV sebagai salah satu alat yang bisa dijadikan bukti kejahatan.

"Saya sudah prediksi bahwa suatu saat informasi Sirekap pasti ditutup, itu sebelum ditutup bahkan mungkin diklaim seperti CCTV disembunyikan oleh Pak Sambo, lalu locus Km 59 dimusnahkan, bisa terjadi itu," ungkap Leony.

Mendengar ahli mengungkit kasus lain pada sidang sengketa Pilpres, Ketua MK Suhartoyo meminta Leony untuk melanjutkan menjawab pertanyaan lain.

"Yang lain saja ibu, sudah," ucap Suhartoyo.

Sebagai informasi, MK memulai sidang sengketa hasil Pilpres 2024 pada Rabu (27/3/2024). Setelah sidang pembacaan permohonan, persidangan dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi dan ahli.

Adapun gugatan sengketa hasil Pilpres 2024 dimohonkan oleh pasangan capres-cawapres nomor urut 1, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar; dan pasangan capres-cawapres nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD.

Dalam gugatannya ke MK, Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud sama-sama meminta agar pasangan capres-cawapres nomor urut 2, Prabowo-Gibran, didiskualifikasi. Kedua pihak juga meminta MK membatalkan hasil Pilpres 2024 dan memerintahkan penyelenggaraan pemilu ulang.

Editor: Iswahyudi


Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah